Ledhug Suro Magetan

IMG_1122.JPG

Ledhug Suro adalah harmonisasi tetabuhan musik tradisi yang berakar budaya jawa dan perkusi yang bernuansa islami. Lesung dan Bedhug sebagai dominasi dalam tampilan ini, sedang piranti musik yang lain hanyalah penambah semarak dalam komposisi. Ledhug Kabupaten Magetan digali, diangkat dan dikembangkan sebagai musik tradisi sejak awal tahun 2000, menjadi maskot perhelatan akbar setiap menyambut datangnya tahun baru Jawa atau tahun baru Hijriyah oleh warga Kabupaten Magetan. 

Kolaborasi musik lesung dan bedhug dalam festival seni musik tradisonal warga Magetan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Sejarah dari alat musik ini adalah Lesung digunakan untuk menumbuk padi dan Bedhug adalah alat untuk woro-woro atau pemberitahuan kuno saat ada kematian maupun ada suatu bencana. Budaya lokal ini dilestarikan sebagai budaya khas Magetan yang akan dipertontonkan dalam berbagai acara, khususnya bulan suro dan akan ditambah lagi dengan beberapa acara menarik lainnya. 

Iklan

Kawah Gunung Blego

img_20170201_0855381

Blego merupakan sebuah gunung yang berada di daerah Kecamatan Parang sebelah selatan Kabupaten Magetan. Gunung Blego dikelilingi oleh beberapa desa diantaranya desa Trosono dari arah timur, desa Sombo dan Ngunut dari arah utara, desa Sayutan dari arah selatan dan desa Nguneng Jawa Tengah dari barat. Jalan menuju kawah menanjak naik dan sedikit terjal, sehingga para wisatawan yang datang harus lebih berhati-hati. Meskipun jalan menuju kawah ini sangat ekstrim, namun gunung ini memiliki keunikan tersendiri yaitu terdapat sebuah kawah mati yang berada ditengah-tengah Gunung Blego. Rencananya, ditengah-tengah kawah gunung tersebut akan ditanami pohon mangga santok yang merupakan buah khas magetan yang saat ini mulai punah.

Untuk para wisatawan yang ingin naik ke Puncak Gunung Blego, harus berjalan ke arah barat dengan jarak tempuh kurang lebih 1 km untuk sampai di puncak. Dari atas puncak sendiri kita bisa melihat keindahan-keindahan yang telah disajikan oleh alam. Selain itu kita bisa melihat hamparan gunung-gunung yang saling berjejeran. Diantaranya Gunung Lawu yang merupakan ikon dari kota magetan, kemudian di sebelah timur ada Gunung Wilis dan beberapa gunung serta bukit kecil yang menambah panorama alam yang mengesankan. Di waktu pagi pun kita bisa melihat sunrise dari puncak Gunung Blego yang menambah para wisatawan betah berlama-lama diatas.

GONDOKUSUMAN: Busana Khas Kabupaten Magetan

img-20170130-wa0000A. Asal-Usul Busana Gondokusuman

Busana Gondokusuman merupakan busana khas Kabupaten Magetan yang sudah diresmikan dalam Peraturan Bupati Magetan Nomor 44 Tahun 2013, Tentang Busana Khas Magetan. Nama Gondokusuman sendiri diambil dari nama Bupati Magetan yang pertama yaitu Raden Tumenggung Yosonegoro. Busana ini biasanya digunakan dalam acara hari jadi Kabupaten Magetan, Andum Berkah Bolu Rahayu dan Labuhan Larung Sesaji di Telaga Sarangan oleh Pejabat Kabupaten Magetan, jajaran SKPD dan Forkopimda. Seluruh Lapisan masyarakat Magetan ataupun masyarakat luar daerah Magetan bisa membeli kain batik gondokusuman ini di industri batik Mukti Rahayu yang bertempat di desa Sidomukti tepatnya di dukuh Papringan.

B. Warna, Model dan Makna Busana Gondokusuman

B.1. Warna, Model dan Makna Busana Gondokusuman Putra :

1). Blangkon:

  • Warna dasar hitam bercorak batik pring sedapur,
  • Model blangkon Surakarta;
  • Maknanya adalah terikat kuat dalam fikiran untuk senantiasa ingat pada Tuhan Yang  Maha Kuasa agar selalu diberikan kekuatan untuk “Memayu Rahayuning Bawono”    

2). Baju/ beskap:

  • Warna coklat tua, bergaris hitam dengan motif lurik pring sedapur;
  • Model beskap landung, berkancing besar lima buah, krah/penutup leher basofian   dengan tangkupan lancip menyilang di depan mestak;
  • Maknanya adalah:
    1. Secara geografis Kabupaten Magetan berada di wilayah Propinsi Jawa Timur,   namun adat budayanya masih kental bernuansa Mataraman; 
    2. Kancing baju besar berjumlah lima buah mengandung arti berjiwa Pancasila   dalam   kehidupan sehari-harinya.

3). Sabuk:

  • Warna hitam, bahan berasal dari kulit hewan;
  • Model othok;
  • Maknanya adalah: mampu mengendalikan diri dari pengaruh-pengaruh negatif     untuk menuju Kabupaten Magetan ” Ayem Tentrem Gemah Ripah Loh Jinawi Karto Toto Tur Raharjo”

4). Celana

  • Warna hitam;
  • Model celana panjang;
  • Maknanya adalah menggambarkan kekuatan alam yang memberi kehidupan.

5). Jarik 

  • Warna coklat tua motif pring sedapur,
  • Model nyabuk wala;
  • Maknanya adalah :
    1.  Jarit/jarik dari kata aja-serik (Bahasa Jawa) artinya jangan iri, dengki dan dendam serta sakit hati;
    2. Sabuk wala (sengkedan/terasiring) artinya menjaga adat budaya ketimuran  tidak terkikis oleh pengaruh kemajuan jaman atau globalisasi;
    3. Pring sedapur lambang kerukunan dan rasa kekeluargaan.

6). Sandal

  • Warna hitam, bahan berasal dari kulit hewan;
  • Model terompah (seperti sandal jepit);
  • Maknanya adalah melindungi langkah ke depan dari onak dan duri.

7). Aksesoris / kelengkapan:

  • Jam rantai;
  • Kelengkapan lainnya (menyesuaikan).

B.2. Warna, Model dan Makna Busana Gondokusuman Putri:

1). Baju/kebaya:

  • Warna coklat tua, bergaris hitam dengan motif lurik pring sedapur;
  • Model kartinian 
  • Maknanya adalah:
    1. Tebalnya rasa kebersamaan dan kekeluargaan
    2. Model kartinian pancaran aura keibuan.

2). Nyamping/jarit/jarik:

  • Warna dasar hitam dengan bermotif pring sedapur warna coklat;
  • Bentuk nyamping wiru nasional;
  • Maknanya adalah:
    1. Jarit/jarik berasal dari kata “aja serik” (Bahasa Jawa), artinya dalam hidup       bermasyarakat jangan mudah iri hati atau dendam kepada siapapun
    2. Nyamping wiru berasal dari kata “diwiwiri dimen ora keliru” (Bahasa Jawa), artinya segala tindakan dan keputusan harus dipertimbangkan agar tidak salah  langkah.

3). Sandal:

  • Warna hitam, bahan berasal dari kulit hewan;
  • Model selempang depan dengan hak setinggi 5 cm s/d 7 cm;
  • Maknanya adalah melindungi setiap langkah ke depan dari onak dan duri;

4). Sanggul:

  • Warna hitam dipadu dengan rangkaian melati dan susuk;
  • Model sanggul nasional (bisa menyesuaikan);
  • Maknanya adalah:
    1. Rambut lambang mahkota keindahan;
    2. Susuk melati lambang kesucian hati;
    3. Sanggul melambangkan kesabaran, ketekunan dan keanggunan seorang ibu.

5). Selendang 

  • Warna perpaduan coklat hitam atau hitam coklat;
  • Model menyesuaikan;
  • Maknanya adalah lambaian kasih sayang yang tulus.

6). Aksesori / kelengkapan

  • Tas / dompet;
  • Bros;
  • Kelengkapan lainnya (menyesuaikan). 

 

Andum Berkah Bolu Rahayu

Andum Berkah Bolu Rahayu merupakan salah satu acara di Magetan untuk merayakan tahun baru islam. Acara ini merupakan puncak dari acara Ledhug Suro yang diadakan setahun sekali. Sebelum acara ini dimulai, Bolu Rahayu yang sudah di hias sedemikian rupa diarak dari Pendopo Surya Graha mengelilingi kota Magetan, diikuti oleh pasukan berkuda yang mewakili dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Magetan yang kemudian disusul oleh kereta hias dengan diiringi musik tradisonal yaitu Gamelan.

Dalam acara ini bukan hanya Bolu Rahayu yang disediakan tetapi ada makanan lain seperti ampyang, enting-enting dandan emping yang juga merupakan makanan khas dari Magetan. Acara Andum Berkah Bolu Rahayu ini memiliki sejumlah kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat Magetan. Sebagian masyarakat Magetan memiliki kepercayaan bahwa siapa saja yang mendapatkan bolu rahayu ini akan mendapatkan berkah sepanjang tahun, maka tak heran jika sebagian masyarakat Magetan rela berdesak-desakan untuk mendapatkan bolu rahayu tersebut.

SOSIALISASI DESA WISATA SUMBERDODOL PROGRAM KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

20170113_1003251

Sosialisasi desa wisata dalam program kuliah kerja nyata yang diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret Surakarta periode Januari-Februari tahun 2017, bertempat di desa Sumberdodol, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, pada tanggal 13 Januari 2017. Acara ini dihadiri oleh Lurah Sumberdodol yaitu Suparmin, ibu  Happy Herawati selaku narasumber dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan, ibu-ibu PKK, karang taruna dan perwakilan masyarakat desa Sumberdodol. Pada mulanya, desa Sumberdodol ini hanya rintisan untuk menjadi salah satu desa wisata di Kabupaten Magetan, rintisan desa wisata ini belum terwujud karena beberapa hal. Desa Sumberdodol ini mempunyai banyak kekayaan alam dan sumber air yang melimpah. Dengan potensi yang dimiliki oleh desa Sumberdodol tersebut, pemerintah kabupaten Magetan siap membantu mewujudkan desa Sumberdodol untuk menjadi “smart village“.  Dalam mewujudkan identitas tersebut, pemerintah akan menghadirkan jaringan internet ke Desa Sumberdodol ini. Internet yang akan dihadirkan, nantinya dapat digunakan sebagai media untuk mencari informasi yang bersifat membangun. Desa Wisata ini dapat terwujud dengan memberdayakan seluruh masyarakat desa, dan mereka menjadi pelaku utamanya. Adapun tujuan didirikannya desa wisata ini yaitu menjual hasil produksi, menciptakan lingkungan bersih dan  menciptakan budaya bersih, supaya ketika ada orang yang berkunjung merasa nyaman.

Opera Wayang Bhineka

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Malam pergantian tahun 2017, Pemerintah Kabupaten Magetan mengadakan pagelaran opera wayang bhineka dengan judul “Rama Tambak”. Pergelaran ini diadakan di alun-alun Magetan selama satu malam penuh yang dipimpin langsung oleh Bupati Kabupaten Magetan yaitu Drs. H.Sumantri,MM dengan menampilkan 5 (lima) dalang, mereka adalah Dalang Ki Margono, Dalang Ki Tulus, Dalang Sasmito Raras, dalang Ki Sri Widodo, dan Dalang Ki Sri Waluyo. Acara pagelaran opera wayang bhineka ini diprakarsai oleh PEKATIK. PEKATIK ini merupakan sebuah paguyuban sejarah kebudayaan tradisional dan ekonomi kreatif Kabupaten Magetan.Dalam pergelaran ini di isi dengan beberapa penampilan seperti tari TOpeng Pamindo dari sanggar Purwa Kencana Loh Sari dari Kabupaten Cirebon. Acara ini digelar di alun-alun kota Magetan yang dihadiri kurang lebih 2000 orang yang terdiri dari Bupati Magetan yaitu Drs.Sumantri,MM, Wakil Bupati Magetan yaitu Samsi, ST dan pejabat-pejabat tinggi lainnya, selain itu juga dihadiri oleh jajaran SKPD Kabupaten Magetan, Jajaran Camat. perwakilan Kades Kabupaten Magetan, Toga dan Tomasy, serta masyarakat Kabupaten Magetan.

Lomba Mewarnai Bersama Pascola

Lomba mewarnai bersama pascola yang diadakan pada tanggal 24 Agustus 2016 di telaga Sarangan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengusung tema “Dengan Mewarnai Kita Ikut Promosikan Potensi Wisata Kabupaten Magetan”. Lomba ini diikuti oleh seluruh siswa dan siswi PAUD dan TK se Kabupaten Magetan. Acara ini berlangsung sangat meriah dimana para peserta tidak hanya sekedar mengikuti lomba mewarnai saja, tetapi juga menampilkan  berbagai kreasi seni, mulai dari fashion show, menyanyi, menari, dan lain sebagainya.Pemenang dari lomba mewarnai ini, diapresisasi secara langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan yaitu, Drs. Siran, MM. Dengan diakannya lomba mewarnai ini, diharapkan para generasi muda khususnya siswa dan siswi PAUD dan TK mengenal wisata di Magetan secara lebih dekat, selain itu juga memberikan informasi kepada masyarakat luas, bahwa Magetan memiliki banyak obyek wisata yang dapat dijadikan sebagai tempat edukasi maupun tempat hiburan.