FESTIVAL KARYA TARI 2017

Festival Karya Tari 2017 diselenggarakan di gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur pada tanggal 18 – 20 Mei 2017, yang dihadiri oleh pejabat dari masing-masing kontingen se Jawa Timur. Acara yang digelar sebagai ajang kreasi pecinta seni tari ini diikuti oleh 33 peserta dari kabupaten/kota di Jawa Timur, salah satunya Kabupaten Magetan.

Kabupaten Magetan menampilkan tari dengan judul “NIRMALA’ yang dilakukan oleh 7 orang penari. Tarian ini mengangkat tema sosial dengan ide tari yaitu “Mobyor Masyarakat Dusun Wonomulyo”. Tema ini menyangkut kehidupan masyarakat dusun wonomulyo yang penduduknya memiliki latar belakang yang bervariasi, namun kerukunan antar warganya masih terjalin sangat baik. Hal tersebut terlihat pada tradisi upacara Bersih Desa hingga upacara Galungan, masyarakat Wonomulyo memiliki toleransi yang sangat tinggi. Gambaran kehidupan seperti itu menjadi inspirasi Ferry Cahyo Nugroho, S.Pd selaku koreografer menjadi sebuah sebuah karya seni dalam bentuk tarian.

IMG_0120.JPGIMG_0118

Kata “NIRMALA” itu sendiri berasal dari dua suku kata yaitu “nir” yang dalam bahasa jawa berarti “tidak”, dan kata “mala” yang berarti “kesukaran” yang mencerminkan kehidupan Dusun Wonomulyo yang hidup dalam kedamaian dan kemuliaan

Dari cerita ini yang diangkat menjadi sebuah karya seni dalam bentuk tarian dan ditampilkan dalam acara Festival Karya Tari 2017, membuat Kabupaten Magetan masuk dalam kategori 10 penyaji Unggulan Tanpa Jenjang, beberapa Kabupaten/Kota lainnya yang masuk dalam kategori ini adalah Kota Surabaya dengan tarian yang berjudul “Okol”, Kabupaten Lamongan dengan tarian yang berjudul “Tutup Layang”, Kota Pasuruan dengan tarian yang berjudul “Larung Segara”, Kabupaten Tuban dengan taruan yang berjudul “Nyenyetri”, Kota Probolinggo dengan tarian yang berjudul “Nangge Mak Dul”, Kabupaten Blitar dengan tarian yang berjudul “Pramugari”, Kabupaten Sumenep dengan tarian yang berjudul “Rokut Tase”, Kabupaten Pasuruan dengan tarian yang berjudul “Ongkok”, dan Kota Kediri dengan tarian yang berjudul “Gemerentang Jati”

IMG_0120IMG_0133

Prestasi yang diraih oleh Kabupaten Magetan ini dapat memberikan motivasi tersendiri untuk para seniman tari untuk terus berkarya, mempertahankan kesenian tradisional dan terus berusaha memberikan yang terbaik agar lebih bisa bersaing lagi dalam ajang kreasi berikutnya
.

GELAR SENI BUDAYA DAERAH 2017

          Gelar Seni Budaya Daerah tahun 2017 digelar pada tanggal 5-6 Mei 2017 di Taman Budaya Jawa Timur, yang diikuti oleh seniman seluruh kabupaten/kota Se Jawa Timur, dan dihadiri oleh seluruh pejabat kota Magetan dan pejabat provinsi, serta masyarakat umum. Acara ini digelar secara rutin setiap tahunnya dengan tujuan untuk membangkitkan Seni Budaya Daerah, mengembangkan dan mempromosikan budaya dan pariwisata masing-masing daerah.

IMG_0187.JPG

           Dalam memeriahkan acara ini Kabupaten Magetan mengangkat Tema “Ngrumpaka Bojana Rasa” dengan menampilkan beberapa tampilan Seni, yaitu menampilkan Tari Doger sebagai Tari Penyambutan, menyanyikan lagu daerah dengan judul “Gebyar Gunung Lawu”,  Pageleran Seni Pertunjukan Wirengan, dengan judul “Petruk Dadi Ratu”, Pagelaran Musik Tradisi Doger untuk mengiringi Lomba Melukis Donat untuk anak-anak, Pagelaran Ketoprak dengan judul “Ande-Ande Lumut”, menampilkan Tari Gambyong Pangkur sebagai tari penyambutan di hari kedua, pameran produk unggulan dari Kabupaten Magetan, serta pembagian doorprice. Seluruh penampilan yang dipersembahkan oleh Kabupaten Magetan ini dilakukan oleh Seniman Magetan. Acara ini berlangsung sangat meriah, banyak pengunjung yang berdatangan untuk menyaksikan acara ini.

Hastungkoro Doa Dalam Bentuk Tembang

IMG_0196IMG_0199

Tari Doger Sebagai Tari Penyambutan

IMG_0204IMG_0212

Gebyar Gunung Lawu

IMG_0237IMG_0240

Pagelaran Seni Pertunjukan Wirengan dengan judul “Petruk Dadi Ratu”

Tari Gambyong Pangkur

IMG_0482IMG_0484

Pagelaran Ketoprak dengan judul “Ande-Ande Lumut”

        Acara Gelar Seni Budaya Daerah ini dapat memberikan motivasi tersendiri bagi para seniman Se Jawa Timur untuk terus melestarikan kesenian tradisonal, meningkatkan kualitas seni budaya, sehingga mampu bersaing secara sehat dengan seni budaya masing-masing daerah.

GEBYAR LABUHAN SARANGAN : BENTUK RASA SYUKUR TERHADAP TUHAN YME

   Puncak acara gebyar labuhan sarangan digelar pada hari minggu, 30 April 2017 dengan arak-arakan tumpeng raksasa setinggi 2 meter yang kemudian dilarungkan ke Telaga Sarangan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME. Acara ini dipimpin langsung oleh Bupati Magetan DR. Drs. H. Sumantri, MM dan diikuti oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Magetan, masyarakat setempat serta beberapa tamu undangan.

Sambutan dari Magetan DR. Drs. H. Sumantri, MM beliau menghimbau bahwa seluruh lapisan masyarakat dan semua yang bertugas harus aktif menggali segala potensi wisata yang ada di Kabupaten Magetan.

DSC_0183.JPG

Sambutan dari Drs. Siran, MM selaku kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan

DSC_0179.JPG

        Acara ini berlangsung sangat meriah karena sebelum prosesi larung tumpeng, ada beberapa pertunjukkan seni seperti tari tradisional, marching band, reog dan lain-lain. Antusiasme penonton yang datang menyaksikan acara ini juga sangat banyak mengingat acara ini merupakan agenda wisata tahunan Kabupaten Magetan dan Jawa Timur yang sudah menjadi tradisi sehingga dapat menarik perhatian wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan luar daerah.

Arak-arakan tumpeng raksasa diawali oleh pasukan berkuda

DSC_0192.JPG

Marching Band dari SMP N 01 Ngariboyo

Carnival Batik yang menambah kemeriahan acara Gebyar Labuhan Sarangan

Arak-arakan Tumpeng Raksasa

Bupati Magetan dan Jajaran Forkopimda menaiki speedboad dan diikuti oleh peserta lainnya

Tumpeng Raksasa diarak ketengah telaga dengan menggunakan speedboad

DSC_0437DSC_0483

Prosesi larung tumpeng raksasa ke Telaga Sarangan

        Acara Gebyar Labuhan Sarangan ini merupakan warisan leluhur secara turun-temurun  harus tetap dilaksanakan setiap tahunnya, selain sebagai bentuk rasa syukur, acara ini juga bisa menarik wisatawan untuk ikut serta menyaksikan prosesi larung tumpeng raksasa ke dalam telaga.

RANGKAIAN GEBYAR LABUHAN SARANGAN 2017

13249664_234202956953571_1849016652_n[1]

photo by akun instagram @glendohwe

Gebyar Labuhan Sarangan merupakan salah satu tradisi rutin yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Magetan dan masyarakat sekitar Telaga Sarangan sebagai salah satu rangkaian kegiatan bersih desa. Acara ini dilakukan untuk meminta  keselamatan dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh SWT atas berkah yang diberikan. Selain itu, tradisi ini mempunyai daya tarik tersendiri baik untuk warga sekitar ataupun warga Magetan secara umum bahkan wisatawan yang berasal dari luar Kabupaten Magetan, karena tradisi ini mempunyai serangkaian acara yang menarik, yang sayang sekali kalau dilewatkan. Gebyar Labuhan Sarangan pada tahun 2017 ini akan dilaksanakan selama empat (4) hari, dimulai dari tanggal 27 April 2017 – 30 April 2017, berikut adalah rangkaian Gebyar Labuhan Sarangan tahun 2017:

  1. 27 April 2017 : Diadakan kerja bakti di kawasan Sarangan, dan kemudian malam harinyanya digelar hiburan Gambyong
  2. 28 April 2017 : Bersih desa Sarangan dan selamatan massal yang dilakukan  oleh seluruh masyarakat Sarangan di depan Hotel Kintamani
  3. 29 April 2017 : Hiburan dangdut ( 09:00 – 12:00) di depan Hotel Kintamani dan hiburan electone tunggal di sekitaran Telaga Sarangan (17:00 – Selesai)
  4. 30 April 2017 : Acara Larung Tumpeng Raksasa pada pukul 11:00 – selesai yang kemudian dilanjukan dengan hiburan dangdut di halaman parkir dekat Hotel Rejeki

Acara Gebyar Labuhan Sarangan ini merupakan acara yang sakral tetapi juga memberikan hiburan tersendiri, maka dari itu jangan lewatkan serangkaian acara Gebyar Labuhan Sarangan karena akan ada doorprice yang sudah disediakan pada acara hiburan dangdut pada tanggal 29 April 2017.

Candi Sadon

     Candi Sadon adalah Suatu candi yang terletak di Dusun Sadon, Desa Cepoko, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Tepatnya ±40 m sebelah timur Dusun Pandak dengan Dusun Sadon (Jalan Raya Magetan-Panekan). Walaupun nama candi tersebut adalah candi sadon, namun masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan nama Candi Reog. Karena di reruntuhan Candi Sadon terdapat Kalamakara yaitu sebuah arca raksasa yang wajahnya mirip dengan kepala harimau pada ‘dhadhakmerak’. Dhadhakmerak adalah topeng kepala harimau dengan hiasan bulu merak yang disusun rapi disekelilingnya. Topeng dhadhak merak yang berat keseluruhanya antara 30-40 kg biasanya digunakan oleh penari Singobarong dalam Kesenian Reog.

     Pada tahun 1969 yang dipelopori oleh Sdr.Sutaryono ketika saat itu menjabat sebagai Kepala Pembinaan Kebudayaan Kabupataen Magetan, diadakan kembali penataan kembali batu-batu reruntuhan Candi Sadon. Di antara reruntuhan peninggalan bersejarah tersebut terdapat arca Kalamakara, Arca Naga, Batu bertulis(inskripsi tidak jelas), Tantri(potongan cerita binatang), Umpak, Yoni, Antefik(bagian sudut candi), dan arca-arca kecil. Candi ini merupakan peninggalan kerajaan Majapahit. Tempat ini dinamakan Candi Sadon, karena terletak di Dusun Sadon, Desa Cepoko. Nama Sadon diambil dari kata SAD = Asad, DON = Padudon, menjadi ASADING PADUDON = yang artinya habisnya perselisihan atau peperangan. Pendapat lain, Sadon berasal dari kata SADU an, SADU berarti tentram, Jadi SADUAN artinya Tempat yang tentram. Inskripsi pada Candi Sadon, berbunyi: 1. A-PA PA-KA-LA, SA DA PA KRA-MA, BA DA SRI-PA SA-BA-DA-HA-LA. Ditinjau dari Paleografi inskripsi pada candi ini sama dengan inskripsi pada prasasti yang ditemukan di Desa Pledokan, Kediri, yaitu diperkirakan pada masa Kerajaan Kediri hurufnya berbentuk balok atau kuadrat. Dari keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Candi Sadon merupakan peninggalan zaman Kerajaan Kahuripan Prabu Airlangga, yang mempunyai keterkaitan dengan Kerajaan Kediri.

     Di sebelah timur kompleks Candi Sadon, tepatnya di depan pemakaman desa setempat terdapat sebuah candi kecil bernama Candi Reca Sapi(Arca Sapi). Ukuran candi ini sangat kecil dibandingkan dengan kebanyakan candi yang terdapat di Jawa Timur. Candi yang diperkirakan merupakan candi Hindu tersebut ditemukan pertama kali pada tahun 1971 oleh Sudiro, penduduk setempat. Ketika ditemukan candi tersebut tertutup rumpun bambu. Candi Reca Sapi terdiri atas 5 arca, yaitu : Reca Kandang, Reca Pakan(tempat makanan sapi), Reca Omben(tempat minum sapi), Reca Capil(arca topi gembala sapi), Reca Cagak(tonggak tempat menambatkan tali pengikat sapi). Kelima arca tersebut diyakini sebagi perwujudan sapi dan perlengkapan menggembala milik Dadhung Awuk atau Maesadanu, tokoh penggembala dalam legenda setempat.Maka daerah Sadon dan sekitarnya banyak yang cocok memelihara sapi atau lembu.IMG-20170308-WA0005

Makam Raden Tumenggung Yosonegoro

20170224_10181920170224_100757

     Raden Tumenggung Yosonegoro (R.T.Yosonegoro) adalah Bupati Magetan pertama, yang menjabat dari tahun 1675 – 1703. Ia lahir dengan nama kecil Basah Bibit atau Basah Gondokusumo dan merupakan cucu dari Raden Basah Suryaningrat. R.T.Yosonegoro diwisuda sebagai penguasa wilayah Magetan pada tanggal 12 Oktober 1675, sekaligus tanggal tersebut menjadi tanggal lahir resmi Kabupaten Magetan. Kabupaten Magetan di bawah pimpinan Bupati Yosonegoro mengalami kehidupan yang tenang, makin lama makin ramai dan makin berkembang. Beliau sangat bijaksana dan berpandangan jauh. Mataram sebagai tanah kelahirannya tidak rela dijajah oleh Kompeni Belanda. Meskipun demikian beliau selalu berusaha agar putera dan rakyat beliau tetap sabar, menyadari kemampuan yang ada padanya. Beliau banyak mencurahkan perhatian kepada kesejahteraan rakyat dan keamanan daerah Magetan. Beberapa tahun kemudian Magetan dilanda bencana alam kekurangan bahan makanan, sehingga banyak timbul perampokan-perampokan. Oleh karena meluasnya berandal yang sulit diatasi, maka beliau terpaksa memberanikan diri mohon bantuan ke pusat pemerintahan Mataram. Dengan bantuan dari pusat pemerintahan Mataram ini akhirnya situasi bisa diatasi dan keamanan daerah pulih kembali. Tidak lama kemudian beliau wafat. Bupati Yosonegoro wafat pada tahun 1703 dan bersama mendiang istrinya dimakamkan di makam Setono Gedong  di Desa Tambran Kecamatan Magetan. 

 

Taman Wisata Bedengan, Kabupaten Magetan

 

 

Taman Wisata Bedengan merupakan tempat wisata yang berada di Desa Genilangit Kecamatan Poncol Kabupaten Magetan. Jalan menuju Bedengan ini cukup menanjak dan berkelok-kelok. Namun wisatawan dijamin tidak akan kecewa karena disepanjang perjalanan menuju Bedengan wisatawan disuguhi eloknya pemandangan dikiri-kanan yang memanjakan mata. Di Taman Wisata Bedengan menyajikan beberapa tempat-tempat menarik bagi pengunjung seperti:

Taman Bunga yang tertata rapi

14709651_1089720067809429_7817913391615311872_n

Photo by : instagram @emhaem

Gazebo tradisional yang terbuat dari bambu dan jerami menambah suasana pedesaan yang semakin kental.

13740939_1573217779639647_1790667275_n

Photo by: instagram account @prassoga

Outbound area

dsc_0014

Terdapat beberapa rumah pohon yang cukup tinggi. Bisa menguji adrenalin pengunjung untuk sekedar naik ke atas ataupun untuk berfoto selfi.

16464229_1402360806452068_6909060039328137216_n

Photo by: instagram account @taman.wisata.bedengan

Warung yang bisa digunakan untuk bersantai ataupun menikmati secangkir kopi Arabika khas Bedengan, yang semakin membuat wisatawan betah untuk berlama-lama di tempat ini.

dsc_0125

Taman Wisata Bedengan ini masih terbilang baru di Kabupaten Magetan, sangat cocok untuk wisatawan yang gemar mengisi waktu luang di alam terbuka hijau dengan pohon-pohon besar yang mengelilinginya. Jadi tunggu apalagi ajak orang-orang terdekatmu untuk datang kesini.