Makam Raden Tumenggung Yosonegoro

20170224_10181920170224_100757

     Raden Tumenggung Yosonegoro (R.T.Yosonegoro) adalah Bupati Magetan pertama, yang menjabat dari tahun 1675 – 1703. Ia lahir dengan nama kecil Basah Bibit atau Basah Gondokusumo dan merupakan cucu dari Raden Basah Suryaningrat. R.T.Yosonegoro diwisuda sebagai penguasa wilayah Magetan pada tanggal 12 Oktober 1675, sekaligus tanggal tersebut menjadi tanggal lahir resmi Kabupaten Magetan. Kabupaten Magetan di bawah pimpinan Bupati Yosonegoro mengalami kehidupan yang tenang, makin lama makin ramai dan makin berkembang. Beliau sangat bijaksana dan berpandangan jauh. Mataram sebagai tanah kelahirannya tidak rela dijajah oleh Kompeni Belanda. Meskipun demikian beliau selalu berusaha agar putera dan rakyat beliau tetap sabar, menyadari kemampuan yang ada padanya. Beliau banyak mencurahkan perhatian kepada kesejahteraan rakyat dan keamanan daerah Magetan. Beberapa tahun kemudian Magetan dilanda bencana alam kekurangan bahan makanan, sehingga banyak timbul perampokan-perampokan. Oleh karena meluasnya berandal yang sulit diatasi, maka beliau terpaksa memberanikan diri mohon bantuan ke pusat pemerintahan Mataram. Dengan bantuan dari pusat pemerintahan Mataram ini akhirnya situasi bisa diatasi dan keamanan daerah pulih kembali. Tidak lama kemudian beliau wafat. Bupati Yosonegoro wafat pada tahun 1703 dan bersama mendiang istrinya dimakamkan di makam Setono Gedong  di Desa Tambran Kecamatan Magetan. 

 

Taman Wisata Bedengan, Kabupaten Magetan

 

 

Taman Wisata Bedengan merupakan tempat wisata yang berada di Desa Genilangit Kecamatan Poncol Kabupaten Magetan. Jalan menuju Bedengan ini cukup menanjak dan berkelok-kelok. Namun wisatawan dijamin tidak akan kecewa karena disepanjang perjalanan menuju Bedengan wisatawan disuguhi eloknya pemandangan dikiri-kanan yang memanjakan mata. Di Taman Wisata Bedengan menyajikan beberapa tempat-tempat menarik bagi pengunjung seperti:

Taman Bunga yang tertata rapi

14709651_1089720067809429_7817913391615311872_n

Photo by : instagram @emhaem

Gazebo tradisional yang terbuat dari bambu dan jerami menambah suasana pedesaan yang semakin kental.

13740939_1573217779639647_1790667275_n

Photo by: instagram account @prassoga

Outbound area

dsc_0014

Terdapat beberapa rumah pohon yang cukup tinggi. Bisa menguji adrenalin pengunjung untuk sekedar naik ke atas ataupun untuk berfoto selfi.

16464229_1402360806452068_6909060039328137216_n

Photo by: instagram account @taman.wisata.bedengan

Warung yang bisa digunakan untuk bersantai ataupun menikmati secangkir kopi Arabika khas Bedengan, yang semakin membuat wisatawan betah untuk berlama-lama di tempat ini.

dsc_0125

Taman Wisata Bedengan ini masih terbilang baru di Kabupaten Magetan, sangat cocok untuk wisatawan yang gemar mengisi waktu luang di alam terbuka hijau dengan pohon-pohon besar yang mengelilinginya. Jadi tunggu apalagi ajak orang-orang terdekatmu untuk datang kesini.

Ledhug Suro Magetan

IMG_1122.JPG

Ledhug Suro adalah harmonisasi tetabuhan musik tradisi yang berakar budaya jawa dan perkusi yang bernuansa islami. Lesung dan Bedhug sebagai dominasi dalam tampilan ini, sedang piranti musik yang lain hanyalah penambah semarak dalam komposisi. Ledhug Kabupaten Magetan digali, diangkat dan dikembangkan sebagai musik tradisi sejak awal tahun 2000, menjadi maskot perhelatan akbar setiap menyambut datangnya tahun baru Jawa atau tahun baru Hijriyah oleh warga Kabupaten Magetan. 

Kolaborasi musik lesung dan bedhug dalam festival seni musik tradisonal warga Magetan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Sejarah dari alat musik ini adalah Lesung digunakan untuk menumbuk padi dan Bedhug adalah alat untuk woro-woro atau pemberitahuan kuno saat ada kematian maupun ada suatu bencana. Budaya lokal ini dilestarikan sebagai budaya khas Magetan yang akan dipertontonkan dalam berbagai acara, khususnya bulan suro dan akan ditambah lagi dengan beberapa acara menarik lainnya. 

Kawah Gunung Blego

img_20170201_0855381

Blego merupakan sebuah gunung yang berada di daerah Kecamatan Parang sebelah selatan Kabupaten Magetan. Gunung Blego dikelilingi oleh beberapa desa diantaranya desa Trosono dari arah timur, desa Sombo dan Ngunut dari arah utara, desa Sayutan dari arah selatan dan desa Nguneng Jawa Tengah dari barat. Jalan menuju kawah menanjak naik dan sedikit terjal, sehingga para wisatawan yang datang harus lebih berhati-hati. Meskipun jalan menuju kawah ini sangat ekstrim, namun gunung ini memiliki keunikan tersendiri yaitu terdapat sebuah kawah mati yang berada ditengah-tengah Gunung Blego. Rencananya, ditengah-tengah kawah gunung tersebut akan ditanami pohon mangga santok yang merupakan buah khas magetan yang saat ini mulai punah.

Untuk para wisatawan yang ingin naik ke Puncak Gunung Blego, harus berjalan ke arah barat dengan jarak tempuh kurang lebih 1 km untuk sampai di puncak. Dari atas puncak sendiri kita bisa melihat keindahan-keindahan yang telah disajikan oleh alam. Selain itu kita bisa melihat hamparan gunung-gunung yang saling berjejeran. Diantaranya Gunung Lawu yang merupakan ikon dari kota magetan, kemudian di sebelah timur ada Gunung Wilis dan beberapa gunung serta bukit kecil yang menambah panorama alam yang mengesankan. Di waktu pagi pun kita bisa melihat sunrise dari puncak Gunung Blego yang menambah para wisatawan betah berlama-lama diatas.