Makam Ki Ageng Mageti

Akhir tahun 1650 hiduplah di desa Gandong kidul (sekitar alun-alun sekarang) seorang cikal bakal Magetan bernama Ki Ageng Mageti. Desa ini masih sangat kecil, penduduknya belum banyak, untuk memperluas wilayah ini, Ki Ageng Mageti mengajak Ki Buyut Suro (Buyut adalah gelar jaman kuno buat lurah/kepala desa) .  Untuk memperluas wilayah ini, penduduk laki-laki di kerahkan membabat hutan, dijadikan sawah dan pemukiman. Berbulan-bulan berjalan dengan lancar tanpa rintangan yang berarti.

Pada tahun 1646 Sultan Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan VOC, sehingga VOC dapat memperkuat diri karena bebas dari serangan Mataram, bahkan pengaruh VOC dapat leluasa masuk Mataram. Kerajaan Mataram menjadi semakin lemah, pelayaran perdagangan menjadi dibatasi tidak diperbolehkan melakukan pelayaran ke pulau Banda, Ambon dan Ternate. Peristiwa tersebut menyebabkan tumbuhnya tanggapan yang negatif terhadap Sultan Amangkurat I di kalangan keraton, terutama pihak oposisi, termasuk putranya sendiri yaitu Adipati Anom yang kelak bergelar Amangkurat II. Kejadian-kejadian di pusat pemerintahan Mataram selalu diikuti oleh daerah Mancanegara, sehingga pangeran Giri yang sangat berpengaruh di daerah pesisir utara pulau Jawa mulai bersiap-siap melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Pada masa itu seorang pangeran dari Madura yang bernama Trunojoyo sangat kecewa pada pamannya yang bernama pangeran Cakraningrat II kerena terlalu mengabaikan Madura dan hanya bersenang-senang di pusat pemerintahan Mataram. Trunojoyo melancarkan pemberontakan terhadap Mataram pada tahun 1674.

Dalam suasana seperti itu kerabat keraton Mataram yang bernama Basah Bibit atau Basah Gondokusumo dan patih Mataram yang bernama pangeran Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan para ulama yang beroposisi dan menentang kebijaksanaan Sultan Amangkurat I. Atas tuduhan tersebut Basah Gondokusumo diasingkan ke Gedong Kuning Semarang selama 40 hari ditempat kediaman Kakek beliau yang bernama Basah Suryaningrat.

 

Patih Nrang Kusumo meletakkan jabatan dan pergi bertapa ke daerah sebelah timur gunung Lawu. Beliau diganti oleh adiknya yang bernama Pangeran Nrang Boyo II. Keduanya ini putra patih Nrang Boyo (Kanjeng Gusti Susuhunan Giri IV Mataram).

Dalam pengasingan tersebut Basah Gondokusumo mendapat nasehat dari kakeknya, yaitu Basah Suryaningrat dan kemudian beliau berdua menyingkir ke daerah sebelah timur gunung Lawu. Beliau berdua memilih tempat ini karena menerima berita bahwa di sebelah timur gunung Lawu sedang diadakan babad hutan. Babad hutan ini dilaksanakan oleh seorang yang bernama Ki Buyut Suro, yang kemudian bergelar Ki Ageng Getas. Pelaksanaan babad hutan ini atas dasar perintah Ki Ageng Mageti sebagai cikal bakal daerah tersebut.

Untuk mendapatkan sebidang tanah untuk bermukim di sebelah timur gunung Lawu itu, Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo menemui Ki Ageng Mageti di tempat kediamannya yaitu dukuh Gandong Kidul (Gandong Selatan), tempatnya di sekitar alun-alun kota Magetan dengan perantaraan Ki Ageng Getas. Hasil dari pertemuan ini Basah Suryaningrat diberi sebidang tanah disebelah utara sungai gandong, tepatnya di desa Tambran Kecamatan kota Magetan sekarang. Peristiwa ini terjadi setelah melalui suatu perdebatan yang sengit antara Ki Ageng Mageti dengan Basah Suryaningrat. Lewat perdebatan ini Ki Ageng Mageti mengetahui bahwa Basah Suryaningrat bukan saja kerabat keraton Mataram, melainkan sesepuh Mataram yang memerlukan pengayoman. Karena itu akhirnya Ki Ageng Mageti mempersembahkan seluruh tanah miliknya sebagai bukti kesetiannya terhadap Mataram. Setelah Basah Suryaningrat menerima tanah persembahan dari Ki Ageng Mageti itu sekaligus mewisuda cucunya yaitu Basah Gondokusumo menjadi penguasa di tempat baru itu dengan gelar Yosonegoro yang kemudian dikenal sebagai Bupati Yosonegoro. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 12 Oktober 1675. Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo merasa sangat besar hatinya, karena telah mendapatkan persembahan tanah yang berwujud suatu wilayah yang cukup luas dan penuh dengan perhitungan strategis, juga mendapatkan sahabat yang dapat diandalkan kesetiannya, yaitu Ki Ageng Mageti. Itulah sebabnya tanah baru itu diberi nama Magetian, dan akhirnya berubah nama menjadi Magetan.ki mageti

Makam Ki Nantang Yudo

Di tengah upacara pernikahan Putri Bupati Purwodadi yang mengundang Bupati-Bupati  di sekitarnya, terjadilah penyerangan oleh Belanda secara tiba-tiba yang mengincar para Bupati tersebut. Akhirnya para Bupati melarikan diri ke arah selatan dan ke arah timur.

Demikian juga Bupati Maospati Raden Toemenggoeng Yoedo Prawiro yang lari ke arah timur menuju Caruban.  Abdi Bupati yang bernama Wiroyudo yang mendampingi Raden Toemenggoeng Yoedo Prawiro saat menghadiri upacara pernikahan putri Bupati Purwodadi, pulang ke Maospati dengan rasa hampa karena tidak mengetahui dimana bendoronya. Ia menyampaikan peristiwa yang terjadi tersebut kepada istri Raden Toemenggoeng Yoedo Prawiro.

Ki Nantang  Yudo yakni abdi tua kinasih Bupati Maospati itu sangat marah dan merasa tersinggung oleh perilaku kompeni Belanda. Ia segera berangkat menuju pusat pertahanan Belanda yang berada di daerah Sidowayah, Ngawi. Disitulah Ki Nantang  Yudo bertempur menghancurkan pertahanan kompeni Belanda dan berhasil memperoleh kemenangan besar, selesai memporakporandakan Belanda Ki Nantang  Yudo beserta prajurit pengikutnya kembali ke Maospati.

Saat perjalanan pulang melewati kali sat sebelah timur terminal Maospati , kaki kuda yang di naikinya terantuk batu dan jatuh ke jurang bersamanya.  Ki Nantang  Yudo meninggal dunia dan jenazahnya di makamkan di Jalan Raya jurusan Madiun dan terminal Maospati ( di Lingkungan Lanud Iswahyudi ). Sampai sekarang makam ini di jaga dengan baik karena Ki Nantang Yudo di anggap sebagai Pahlawan yang berjuang melawan Belanda.Depan Ki Nantang Yudho